Jumpalitan ada juga di

erratic
100words



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



kalender
<< September 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30



ikut salto sekarang!
   



teman-teman
SUAMI
aldi
john badalu
ake
alia
anakzaman
barrie
bonny
cecile
genny
indrani
jessy
karin
keke
kenny
lilo
momo
paul
piktip
rangga
rey
rina
ririn
ruri
yohipup



.:Disclaimer:.
Blog ini adalah blog pribadi dari jumpalitan, dan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Jika ada pelanggaran hak cipta, maka saya mohon maaf sebesar-besarnya karena semua itu terjadi tanpa unsur kesengajaan. Seluruh gambar, merek, dan logo yang muncul dalam blog ini tetap menjadi milik dari perusahaan yang menciptakannya.








Blogarama - The Blog Directory






Listed on Blogwise



Best Blogs in Asia











kredit desain
desain oleh: els
diambil dari: Blogskins
diedit oleh: jumpalitan


BLOGDRIVE
TEMPLATES

20.1.05
Orang yang luar biasa
Hari ini orang yang bagi saya paling luar biasa ulang tahun.

SUAMI saya ulang tahun.

Dia tidak menjadi luar biasa karena dia suami saya. Dia menjadi luar biasa karena memang itulah dia.

Dia menjadi luar biasa karena bagi saya dia hampir selalu benar. Dia sering berteori kalau pohon-pohon dan burung-burung membenci mobil saya (mobil saya selalu penuh dengan daun, ranting, kotoran burung, dsb). Tadinya saya anggap itu guarauan, sampai suatu hari ketika mobil saya sedang diparkir di sebuah gedung parkir tertutup, tetap ada sehelai daun di atasnya.

Dia menjadi luar biasa karena dia selalu mau menemani saya begadang sampai jam berapapun, sampai dirinya tertidur di atas bantal besar di ruang kerja.

Dia menjadi luar biasa karena dia selalu rela saya bangunkan dari tidurnya yang lelap, karena saya tidak bisa tidur dan membutuhkannya untuk menggenggam tangan saya.

Dia menjadi luar biasa karena saya tahu saya selalu bisa percaya padanya. Pada pendapatnya, pada dirinya.

Dia menjadi luar biasa karena saya tahu dia tidak akan pernah mengecewakan saya.

Dia menjadi luar biasa karena dia memang dia luar biasa.

Dia menjadi luar biasa karena saya luar biasa cinta kepadanya.

Selamat ulang tahun, cinta.



Kita akan bersama-sama sampai tua
dan terus berusaha jadi pasangan paling asik sedunia.
Iya kan, cinta?

jumpalitan salto-salto sendirian pada 10:25 pm
(1) orang sudah nimbrung  

-•-

18.1.05
Operasinya sukses!
Operasi Cino berjalan sukses. Dan hasil tes darahnya juga bagus.

Dokternya tadi menelpon saya untuk memberi kabar.

Bukan main rumah sakit ini. Luar biasa.

jumpalitan salto-salto sendirian pada 03:18 pm
nimbrung yuk!  

-•-

16.1.05
Di rumah sakit
Hari ini obat antibiotik Cino habis. Dan kesempatan dia untuk tinggal bersama Nies juga kadaluwarsa.

Hari ini SUAMI dan saya menjemput Cino di rumah Nies dan membawanya ke rumah sakit. Di sana kami bertemu dengan dokter Sabrina yang luar biasa baik. Dia memeriksa Cino dengan telaten dan memberi penjelasan kepada saya dan suami tentang apa penyakit Cino dengan detil. Begitu jelas, begitu peduli. Saya bahkan harus mengakui kalau dokter hewan ini jauh lebih sensitif dari dokter-dokter manusia yang pernah memeriksa saya. Dia bisa membuat saya dan SUAMI tenang dan paham kondisi Cino.

Sedih juga ya jadi manusia?

Tapi ada kabar baik. Cino sudah bisa dioperasi. Radangnya sudah hilang dan tubuhnya sudah menguat (terima kasih banyak, Nies!).

Jadilah Cino masuk rumah sakit hari itu juga. Operasi akan dilaksanakan Senin pagi. Biayanya tidak murah, tapi cuma itu yang bisa saya berikan untuk Cino. Dan saya bisa tenang kembali karena selama satu minggu ke depan hidup Cino terjamin.



Beberapa catatan kecil:

satu
Hubungan saya dengan Cino agak aneh. Saya baru menemukan dia Selasa malam, tapi dia langsung mengikuti saya ke mana-mana. Kalau dipanggil oleh orang lain dia cuek saja. Tapi kalau dia mendengar suara saya pasti langsung menghampiri.

Setiap kali saya tidak dalam satu ruangan dengan dia, dia akan melenguh dan mencari-cari saya (ini menurut cerita SUAMI, Ed, dan Ich). Dan setiap kali saya muncul kembali, dia pasti langsung menyergap saya dan minta disayang-sayang.

dua
Cino cuma mau makan daging. Biskuit khusus anjing yang dibelikan Nies sama sekali tidak disentuh. Nasi dengan sayur juga dia tidak mau. Pokoknya cuma daging dan daging. Dan dia tidak mau minum susu.

tiga
Cino suka sekali musik. Setiap kali kami perdengarkan musik, dia menjadi tenang dan ekornya bergoyang-goyang. Bahkan, menurut Ich, ketika Ich memutar musik klasik Cino ikut bernyanyi-nyanyi.

empat
Yang ini kejadian lucu.

Di dalam mobil menuju rumah sakit, Cino kami taruh di belakang dan SUAMI saya menemani dia supaya dia tidak panik. Tapi ternyata dia malam senang di dalam mobil (mungkin pemiliknya yang dulu juga sering mengajak dia jalan-jalan). Cino malah memanjat kaki SUAMI saya dan berlagak seperti sedang melihat-lihat ke luar jendela belakang. Padahal kan dia tidak bisa melihat apa-apa. Soalnya, kalau dia bisa melihat, dia akan sadar kalau dia sebenarnya sedang menatap ban serep. Hahahahahahahahahaha.


jumpalitan salto-salto sendirian pada 06:40 pm
nimbrung yuk!  

-•-

12.1.05
belum selesai
Perjalanan menolong Cino yang saya pikir akan selesai dalam satu hari, tampaknya harus diperpanjang sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Pagi tadi saya tiba di kantor Ich pukul 8 pagi. Ed tidak tampak sama sekali. Dan semua telpon saya tidak dijawab.

Ich dan beberapa teman lain menemani saya menikmati segelas kopi. Saya betul-betul butuh minum kopi. Semalaman saya tidak tidur dan tidak bisa tidak memikirkan Cino. Saya betul-betul butuh kopi.

Pukul sembilan pagi Ed menelpon dengan panik. Dia kebablasan tidur.

Ed tiba pukul sepuluh. Dia juga minum kopi dulu satu gelas, sehingga kami baru bisa berangkat menuju Ragunan pukul setengah sebelas.

Di perjalanan, SUAMI menelpon dan memberi sebuah kabar buruk. Seorang teman dekat meninggal. Begitu tiba-tiba. Saya sangat kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dan seluruh rasa yang ada tercampur aduk. Sedih, marah, terkejut, capek, ngantuk...sampai akhirnya yang keluar dari diri saya hanya sebuah tawa pahit.

Sisa perjalanan ke Ragunan itu akhirnya kami tempuh dalam diam. Saya juga tak berselera untuk berbuat apa-apa. Saya cuma ingin semua ini cepat selesai.

Sampai di Ragunan, saya langsung mendaftarkan Cino untuk diserahkan. Tapi petugas administrasi di sana bilang tidak bisa. Sudah tidak ada tempat lagi. Daftar tunggu orang-orang yang ingin menyerahkan anjingnya sudah mencapai hampir 80 orang. Seberapa kritisnya pun kondisi Cino, dia tidak bisa saya titipkan di Ragunan.

Karena saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya minta ke petugas itu untuk bertemu dokter hewan di sana. Di depan si dokter akhirnya saya tidak bisa tahan lagi. Saya bercerita proses kami menemukan Cino dengan suara penuh getar, dan air mata itu keluar juga. Si dokter demikian iba sampai dia rela memeriksa dan memberi obat kepada Cino secara cuma-cuma. Tapi persoalan utama tetap ada: Cino mau dirawat oleh siapa?

Satu demi satu teman-teman yang terdaftar nomernya di HP saya hubungi. Tidak satu pun bisa menolong. Sampai akhirnya saya menelpon Nies. Dia mau menerima Cino, tapi hanya untuk sementara. Dan saat itu, "sementara" masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadilah saya dan Ed membawa Cino ke kantornya.

Saya sudah tidak tahu lagi seperti apa rupa saya ketika bertemu Nies. Saya cuma ingat saya meracau tak keruan. Tapi dari sorot matanya, saya rasa saya pasti tampak seperti di ambang kegilaan. Saya sendiri tidak mengerti kenapa segala urusan seputar Cino jadi begitu mempengaruhi saya. Tapi saya lega Cino punya rumah untuk sementara.

Setelah semua urusan serah terima beres, waktu sudah menunjukkan pukul tiga. Saya belum makan secuil pun sejak tadi malam. Suara-suara di sekitar saya seperti bergema dan menjauh redup. Gerakan-gerakan di depan mata menjadi lambat. Dan dalam kondisi itu saya masih harus menyetir kembali ke kantor Ich untuk menemani Ed mengambil motornya.

Setiba di sana, beberapa teman tampak kaget melihat saya dan langsung memesankan makanan. Saya terus disodori air putih. Gelas demi gelas. Sambil duduk lemas di atas sofa mereka yang sangat nyaman.

Dan tugas saya hari ini belum juga selesai.

Masih ada rapat yang harus saya hadiri pukul lima sore.

Setelah rapat, saya ridak bisa berbuat banyak. Saya cuma bisa masuk mobil dan tidur di dalamnya sampai SUAMI menjemput saya dan mengajak pulang.

Perjalanan masih panjang. Cino masih belum punya rumah tetap. Dan saya masih gelisah.



Catatan tambahan:

Menurut dokter, kebutaan Cino sudah total dan tidak bisa disembuhkan. Bengkak pada scrotumnya adalah tumor yang harus diangkat segera. Tapi karena kondisi badan Cino masih sangat lemah dan bengkak tumor itu masih radang, satu-satunya jalan adalah Cino harus diberi antibiotik dulu. Setelah radangnya hilang baru Cino bisa dioperasi.


jumpalitan salto-salto sendirian pada 09:20 pm
nimbrung yuk!  

Namanya Cino... Al Pacino....
Namanya Cino... lengkapnya Al Pacino. Ia kami temukan terjebak di dalam got di depan kantor saya tadi malam. Menurut satpam, dia sudah mengaing-ngaing sejak pagi, tapi tidak ada yang berani menolongnya, "Karena anjing itu haram," (alasan ini saya kutip langsung dari si satpam).

Jadilah malam itu, pukul setengah sebelas malam, saya, suami dan Ed mengambil dia dari dalam selokan. Badannya gemetar dan tegang luar biasa. Dan setelah diperhatikan dengan baik, kami baru sadar ternyata dia buta. Bukan cuma itu. Scrotum-nya (testis, kalau menurut istilah umum; atau biji dalam bahasa sehari-hari) bengkak sangat besar. Begitu besar sampai hampir sebesar kakinya. Makhluk malang.

Ed kemudian pergi membeli nasi bungkus untuk dia. Sementara saya dan suami berusaha menenangkannya sambil mengira-ngira siapa namanya. Dari semua suku kata yang kami lempar secara acak, ternyata dia bereaksi pada suku kata "cin." Jadilah ia kami beri nama Al Pacino (karena Al Pacino pernah menang Oscar untuk film Scent of a Woman, dimana dia berperan sebagai seorang buta), dengan panggilan sayang: Cino.

Setelah Cino makan dan minum, ia terlihat membaik dan sedikit lebih segar. Tapi kemudian timbul problem berikutnya: mau kita apakan dia? Dilepas lagi tentu saja tidak mungkin. Apalagi matanya buta. Tapi mau dibawa pulang ke rumah saya juga tidak bisa. Anjing saya di rumah terlalu galak dan cemburuan. Bisa digigit habis si Cino. Ed juga tidak bisa memeliharanya, karena Ed sendiri tinggal di sebuah rumah susun yang di antara penghuninya banyak yang gemar makan anjing.

Akhirnya, di tengah malam buta, kami panik menelpon sana-sini, mencari tempat tinggal untuk Cino. Ketika tidak ada satupun teman yang menyanggupi, permohonan kami jadi lebih kompromistis. Kami minta mereka menampung Cino untuk satu malam. Satu malam saja. Supaya paginya saya dan Ed bisa membawa Cino ke tempat penampungan hewan di Ragunan, sekalian memeriksakan kondisi Cino ke dokter-dokter di sana.

Setelah mencoba lagi dan kembali mendengar penolakan demi penolakan, kami mencoba bernegosiasi dengan satpam kantor. Kami bujuk pelan-pelan untuk mau membiarkan Cino di halaman kantor untuk satu malam. Satu malam saja. Tapi kembali kami ditolak. Terlalu takut dia. Tidak mau terima konsekuensi apapun intinya.

Di puncak kebingungan, saya menelpon Ich, salah satu teman sependeritaan selama masa shooting tiga bulan kemarin. Entah karena memang dia jatuh kasihan kepada Cino atau justru lebih karena jatuh kasihan kepada saya (yang sudah hampir menangis), dia mengijinkan Cino dibawa ke tempatnya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul satu pagi.

Saat ini, Cino sedang menemani Ich yang harus begadang mengejar deadline. Sementara saya sendiri tidak bisa tidur, karena takut tidak bisa bangun pagi dan telat menjemput Cino untuk dibawa ke dokter.

jumpalitan salto-salto sendirian pada 02:33 am
nimbrung yuk!  

-•-

5.1.05
Komentar-komentar pinggiran
Mumpung kita masih berada di tengah-tengah euforia berbicara tentang Aceh, ini ada cuplikan beberapa komentar yang cukup "mengganggu." Mengganggu karena komentar-komentar ini memang tidak sensitif, tapi juga mengganggu karena saya toh tetap bisa cengar-cengir mendengarnya.

Ditulisnya komentar-komentar ini di sini tidak memiliki maksud menyinggung atau menghina. Tapi lebih sebagai sebuah potret kecil tentang sifat manusia yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menemukan sisi humor dalam keadaan yang paling menyedihkan sekali pun. Orang-orang yang mengeluarkan komentar-komentar ini juga tidak bermaksud serius sama sekali ketika membuat lontaran spontan ini.

Jadi…jangan ada yang marah yaaaaaa. (Saya tetap paranoid, karena belakangan ini orang Indonesia gampang sekali tersinggung dan terpancing.)

"Aduh, gila ya. Itu ada satu desa di Aceh yang orang-orangnya abis semua, lho. Satu desa mati semua. Padahal kan orang Aceh cakep-cakep. Berkurang deh jumlah orang cakep di Indonesia."

"Iya, gue juga pengen adopsi anak Aceh. Tapi maunya yang perempuan aja, umurnya 16 tahunan. Dan gue nggak bakal mau dipanggil Papa. Dipanggil Om aja, atau kakak."
(komentar seorang teman lak-laki ketika media heboh memberitakan trend mengadopsi anak Aceh)

Ketika ada seseorang yang membuang sisa minumannya, ada yang berkomentar,
"Heh! Buang-buang air! Di Aceh banyak orang yang nggak bisa minum air bersih, tahu nggak?"
"Aduh, rese banget deh orang-orang Aceh itu. Udah banyak disumbang kok masih komplain aja sih?"

jumpalitan salto-salto sendirian pada 11:42 pm
nimbrung yuk!  

-•-

3.1.05
Resolusi...oh, resolusi
Ini baru hari ketiga di tahun 2005, tapi saya telah menggagalkan satu resolusi tahun baru dengan sukses.

Sebenarnya dulu saya selalu meragukan pentingnya resolusi. Agak absurd buat saya. Tiap awal tahun semua orang akan membuat janji-janji yang rasa-rasanya kok dibuat tidak untuk ditepati. Tapi lama-lama saya merasa… mungkin ada baiknya. Walau bagaimanapun, hidup harus tetap diatur seperti kita mengatur bisnis. Harus ada hitungan ekonomis, untung-rugi, strategi dagang…. Jadi, layaknya sebuah perusahaan, tiap tahun harus ada evaluasi dan harus ada sasaran-sasaran baru. Supaya nggak nanggung. Toh kita sudah kadung hidup di sebuah masyarakat bersistem kapitalis. Kenapa tidak sekalian menerapkan pola pikir itu dalam melihat diri kita sendiri secara pribadi? Kenapa tidak sekalian menerapkan sistem itu dalam merancang langkah kita ke depan?

Itulah mengapa sejak beberapa tahun terakhir ini saya ikut-ikutan membuat resolusi. Dan selama beberapa tahun terakhir itulah saya belum pernah bisa mencapai semua sasaran yang telah saya tetapkan sendiri.

Memang susah menjaga target-target pribadi. Jauh lebih sulit daripada menjaga tenggat pekerjaan. Mungkin karena dalam target pribadi tidak ada konsekuensi yang datang dari luar. Semuanya berbalik ke dispilin diri sendiri. Dan menjaga diri sendiri itu lebih sulit daripada menjaga orang lain.

Resolusi tahun lalu saya yang tercapai cuma satu. Tahun lalu saya berhasil mengunjungi daerah di Indonesia yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Tapi itu pun tidak akan kejadian kalau tidak karena kantor mengirim saya ke sana.

Nah, berdasarkan hasil evaluasi tahun lalu yang hasilnya sangat mengecewakan itu, saya berniat untuk membuat resolusi yang lebih “ringan” tahun ini. Lebih realistis. Karena percuma saja membuat target yang tidak mungkin dikejar kan?

Itu perkiraan saya.

Tapi kenyataannya… baru hari ketiga sudah satu resolusi kandas. Resolusi itu adalah menulis tiap hari. Tanpa bolong satu hari pun.

Hahahahahaha.

Sementara saya tidak menulis apapun kemarin. Tidak di blog ini, tidak juga di blog-blog saya yang lain. Bahkan tidak di buku jurnal saya. Memalukan.

Sementara resolusi lainnya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan direalisasikan. Salah satunya adalah niat saya untuk membaca Kamus Besar bahasa Indonesia, dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Tapi kamus terbitan terbaru pun belum saya dapatkan.

Memang repot kalau tidak punya dispilin diri. Dan saya baru sadar, “meningkatkan dispilin diri” kok justru tidak saya masukkan dalam resolusi saya di 2005 ya?

jumpalitan salto-salto sendirian pada 09:30 pm
nimbrung yuk!  

-•-

   Next Page