Perjalanan menolong Cino yang saya pikir akan selesai dalam satu hari, tampaknya harus diperpanjang sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.
Pagi tadi saya tiba di kantor Ich pukul 8 pagi. Ed tidak tampak sama sekali. Dan semua telpon saya tidak dijawab.
Ich dan beberapa teman lain menemani saya menikmati segelas kopi. Saya betul-betul butuh minum kopi. Semalaman saya tidak tidur dan tidak bisa tidak memikirkan Cino. Saya betul-betul butuh kopi.
Pukul sembilan pagi Ed menelpon dengan panik. Dia kebablasan tidur.
Ed tiba pukul sepuluh. Dia juga minum kopi dulu satu gelas, sehingga kami baru bisa berangkat menuju Ragunan pukul setengah sebelas.
Di perjalanan,
SUAMI menelpon dan memberi sebuah kabar buruk. Seorang teman dekat meninggal. Begitu tiba-tiba. Saya sangat kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa. Dan seluruh rasa yang ada tercampur aduk. Sedih, marah, terkejut, capek, ngantuk...sampai akhirnya yang keluar dari diri saya hanya sebuah tawa pahit.
Sisa perjalanan ke Ragunan itu akhirnya kami tempuh dalam diam. Saya juga tak berselera untuk berbuat apa-apa. Saya cuma ingin semua ini cepat selesai.
Sampai di Ragunan, saya langsung mendaftarkan Cino untuk diserahkan. Tapi petugas administrasi di sana bilang tidak bisa. Sudah tidak ada tempat lagi. Daftar tunggu orang-orang yang ingin menyerahkan anjingnya sudah mencapai hampir 80 orang. Seberapa kritisnya pun kondisi Cino, dia tidak bisa saya titipkan di Ragunan.
Karena saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya minta ke petugas itu untuk bertemu dokter hewan di sana. Di depan si dokter akhirnya saya tidak bisa tahan lagi. Saya bercerita proses kami menemukan Cino dengan suara penuh getar, dan air mata itu keluar juga. Si dokter demikian iba sampai dia rela memeriksa dan memberi obat kepada Cino secara cuma-cuma. Tapi persoalan utama tetap ada: Cino mau dirawat oleh siapa?
Satu demi satu teman-teman yang terdaftar nomernya di HP saya hubungi. Tidak satu pun bisa menolong. Sampai akhirnya saya menelpon Nies. Dia mau menerima Cino, tapi hanya untuk sementara. Dan saat itu, "sementara" masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadilah saya dan Ed membawa Cino ke kantornya.
Saya sudah tidak tahu lagi seperti apa rupa saya ketika bertemu Nies. Saya cuma ingat saya meracau tak keruan. Tapi dari sorot matanya, saya rasa saya pasti tampak seperti di ambang kegilaan. Saya sendiri tidak mengerti kenapa segala urusan seputar Cino jadi begitu mempengaruhi saya. Tapi saya lega Cino punya rumah untuk sementara.
Setelah semua urusan serah terima beres, waktu sudah menunjukkan pukul tiga. Saya belum makan secuil pun sejak tadi malam. Suara-suara di sekitar saya seperti bergema dan menjauh redup. Gerakan-gerakan di depan mata menjadi lambat. Dan dalam kondisi itu saya masih harus menyetir kembali ke kantor Ich untuk menemani Ed mengambil motornya.
Setiba di sana, beberapa teman tampak kaget melihat saya dan langsung memesankan makanan. Saya terus disodori air putih. Gelas demi gelas. Sambil duduk lemas di atas sofa mereka yang sangat nyaman.
Dan tugas saya hari ini belum juga selesai.
Masih ada rapat yang harus saya hadiri pukul lima sore.
Setelah rapat, saya ridak bisa berbuat banyak. Saya cuma bisa masuk mobil dan tidur di dalamnya sampai
SUAMI menjemput saya dan mengajak pulang.
Perjalanan masih panjang. Cino masih belum punya rumah tetap. Dan saya masih gelisah.
Catatan tambahan:
Menurut dokter, kebutaan Cino sudah total dan tidak bisa disembuhkan. Bengkak pada scrotumnya adalah tumor yang harus diangkat segera. Tapi karena kondisi badan Cino masih sangat lemah dan bengkak tumor itu masih radang, satu-satunya jalan adalah Cino harus diberi antibiotik dulu. Setelah radangnya hilang baru Cino bisa dioperasi.
jumpalitan salto-salto sendirian pada 09:20 pm
catat!